Dites Urine, Anggota PWI Gresik Dinyatakan Negatif

Wartawan Gresik yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), menunjukkan komitmennya bersih dari penggunaan narkoba. Buktinya, seluruh anggota PWI Gresik menjalani tes urine dan hasilnya dinyatakan negatif, Senin (6/2) kemarin.

Agenda tes urine diprakarsai langsung oleh pengurus dengan menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Gresik. Kesediaan tes urine di kalangan jurnalis ini merupakan bentuk komitmen bersama tanpa narkoba.

Ketua PWI Gresik, Sholahuddin mengatakan, tes urine sengaja diagendakan secara diam-diam untuk seluruh anggota dan pengurus. Tujuannya adalah mendeteksi dini, apakah anggota beserta jajaran kepengurusannya memakai narkoba? “Alhamdulillah, tadi sudah dilihat bersama kalau hasilnya semua negatif. Pengurus dan Anggota PWI bersih dari narkoba,” katanya, saat di sebuah rumah makan yang merupakan lokasi tes urine, kemarin.

Mereka yang aktivitasnya sering berkecimpung terkait pemberitaan narkoba, memang sudah sewajarnya harus dites. Hal ini sebagai tanggungjawab moral selaku insan pers dan sudah terbukti benar-benar bersih dari narkoba. “Kegiatan ini juga menjawab atas penilaian masyarakat, kalau wartawan tidak hanya menulis saja. Tetapi, juga berkomitmen stop narkoba,” terangnya.

Sementara itu, Kepala BNNK Gresik, AKBP Agustianto mengapresiasi keberanian PWI Gresik dalam melakukan tes urine kepada anggotanya. Kegiatan ini juga sebagai jawaban atas keraguannya, terkait kesediaan wartawan Gresik dites urine. “Ini merupakan kehormatan bagi saya, karena teman-teman wartawan bersedia dites urine. Dulunya saya sempat ragu, tapi akhirnya PWI Gresik membuktikan itu (clear and clean),” tandasnya.

Memang sudah seharusnya kalangan wartawan ikut tes urine. Karena sebelum mengkampanyekan tentang bahaya Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) kepada khalayak umum, kondisi internal harus dipastikan bersih dulu. Yaitu bersih dan bebas dari penggunaan narkoba. “Harapannya kerjasama ini tidak berhenti sampai disini, tapi terus berlanjut ke depan,” imbuh dia.

Selanjutnya, Agustianto menerangkan, bahwa tidak dipungkirinya kondisi Gresik terhadap P4GN sungguh memprihatinkan. Sesuai data yang dimiliki, persoalan narkoba dengan pengajuan rehabilitasi pada tahun 2016 sebanyak 379 kasus di Kabupaten Gresik. Mirisnya, 70 persen diantara mereka berstatus pelajar. “Pada tahun 2017 ini, target saya (kasus) harus turun. Caranya tetap fokus pencegahan dan penangkapan,” pungkas AKBP Agustianto. (har/koi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *