PG Kenalkan Produk NPK Phonska Plus

Berdasarkan data International Fertilizer Association (IFA), sebesar 50% kondisi lahan pertanian dunia mengalami defisiensi unsur hara mikro Zinc (Zn) yang cukup signifikan. Peta defisiensi Zinc menunjukkan bahwa Indonesia termasuk wilayah dengan defisiensi terparah di dunia.

Selain pada tanah, IFA menyebutkan 1/3 populasi dunia atau sekitar 2 miliar manusia juga mengalami defisiensi nutrisi Zinc pada tubuh. Adapun kebutuhan nutrisi Zinc pada manusia utamanya berasal dari asupan pangan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya penambahan unsur hara mikro Zinc pada lahan pertanian.

Menjawab kondisi tersebut, PT Petrokimia Gresik (PG) meluncurkan pupuk NPK Phonska Plus dihadapan 185 distributornya yang berasal dari provinsi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), di Kota Denpasar, Bali, Kamis malam (17/11).

Direktur Pemasaran PG Meinu Sadariyo menyatakan bahwa, dari segi fisik, NPK Phonska Plus dikemas dalam kantong dengan berat bersih 25 kilogram, berbentuk granul, berwarna putih, dan bersifat higroskopis (mudah larut dalam air).

Dari segi kandungan, NPK Phonska Plus mengandung unsur hara makro lengkap seperti Nitrogen (N), P2O5 atau Fosfat (P), dan Kalium (K2O) dengan kadar masing-masing 15%. Selain itu juga terdapat unsur hara mikro seperti Sulfur (S) 9% dan Zinc sebesar 2.000 part per million (ppm). Penambahan unsur hara mikro Zinc inilah yang membedakan NPK Phonska Plus dengan NPK Phonska bersubsidi biasa.

“Kami ingin menawarkan solusi terhadap masalah defisiensi Zinc pada lahan pertanian, sekaligus menawarkan pupuk NPK non – subsidi dengan kualitas yang lebih baik namun tetap dengan harga terjangkau,” ujar Dirsar PG Meinu Sadariyo.

Sebagai salah satu unsur hara mikro esensial bagi tanaman, Zinc bermanfaat dalam memaksimalkan penyerapan unsur hara makro N, P, dan K. Zinc juga berfungsi mendukung pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan biji / buah, dan memperkuat daya tahan tanaman terhadap hama / penyakit. Kekurangan Zinc berdampak pada kekerdilan tanaman, daun mengecil, ketegaran tanaman berkurang, serta ukuran bulir / buah kecil.

Pada manusia, Zinc merupakan zat gizi mikro mutlak yang diperlukan oleh tubuh. Zinc berperan penting pada pertumbuhan dan pembelahan sel serta sistem kekebalan. Kekurangan Zinc pada manusia dapat mengakibatkan pertumbuhan terhambat, penyembuhan luka terlambat, dermatitis, infeksi, diare, perubahan neurologis, bahkan kematian.

Dari segi penjualan, antusiasme terhadap NPK Phonska Plus cukup tinggi. Selama Oktober s.d November 2016, total realisasi permintaan telah mencapai 3.000 ton. Rinciannya, 1.000 ton dari Jawa – Bali dan 2.000 ton dari luar Jawa – Bali (terutama Sumatera dan Sulawesi). Hal ini membuat PG memproduksi dan mendistribusikan NPK Phonska Plus lebih awal dari jadwal peluncurannya.

Selain meluncurkan dan memperkenalkan pupuk NPK Phonska Plus, PG juga melakukan penjualan langsung kepada distributor yang hadir. Target penjualan pada malam hari ini adalah 2.000 ton.

“Melihat minat yang tinggi di berbagai daerah, kami optimis target penjualan 2.000 ton NPK Phonska Plus pada malam ini tercapai,” tambah Dirsar PG Meinu Sadariyo.

Dari segi kualitas, NPK Phonska Plus telah melewati serangkaian uji coba di sejumlah titik (Kediri, Tabanan, Lombok, Jember, dan Boyolali) bekerjasama dengan universitas dan Balai Penelitian Tanaman Pertanian (BPTP). Uji coba ini membandingkan penggunaan NPK Phonska Plus (NPKS+Zn) dengan NPK Phonska biasa (NPKS, tanpa Zinc).

Uji coba dilakukan dengan perlakuan dan dosis pemupukan yang sama pada komoditas padi, yaitu menggunakan formulasi 5:3:2 atau 500 kg pupuk organik Petroganik, 300 kg NPK Phonska Plus, dan 200 kg Urea per hektar sawah.

“Dari hasil uji coba ini, NPK Phonska Plus terbukti mampu meningkatkan panen rata-rata 0,59 ton per hektar gabah kering panen atau 11% lebih besar jika dibandingkan dengan padi yang menggunakan pupuk NPK Phonska biasa tanpa Zinc,” ujar Dirsar PG Meinu Sadariyo.

Sedangkan pada tanaman jagung, uji coba NPK Phonska Plus dilakukan di Jember, Jawa Timur, mampu meningkatkan hasil panen 8% atau 0,68 ton per hektar lebih besar dibandingkan dengan NPK Phonska (NPKS) biasa tanpa Zinc.

Selain uji coba, PG juga melakukan demonstration plot (demplot) padi sebanyak 772 demplot di 95 kabupaten (8 provinsi) selama 2015 – 2016. Tujuan demplot adalah untuk melihat konsistensi hasil uji aplikasi di lokasi lain dengan kondisi yang lebih beragam. Demplot membandingkan penggunaan pupuk NPK Phonska Plus (NPKS+Zn) dengan pemupukan kebiasaan petani setempat.

“Dari demplot ini kami dapatkan rata – rata peningkatan panen 0,85 ton gabah kering panen per hektar atau naik 13% jika dibanding hasil aplikasi pemupukan petani setempat,” ujar Dirsar PG Meinu Sadariyo.

Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan defisiensi Zinc pada lahan pertanian dan manusia, Dirsar PG Meinu Sadariyo menyatakan bahwa pihaknya akan mulai gencar mengampanyekan pentingnya unsur hara mikro Zinc, sekaligus menyosialisasikan manfaat dan keunggulan NPK Phonska Plus pada awal tahun 2017 mendatang.

“Kami akan sosiaisasikan kepada petani mengenai pentingnya Zinc pada lahan pertanian dan manusia. Sehingga kita tidak sekedar fokus pada unsur hara makro saja, tetapi unsur hara mikro juga penting untuk diperhatikan,” ujar Dirsar PG Meinu Sadariyo.

Dari segi ketersediaan produk, realisasi produksi NPK Phonska Plus telah mencapai lebih dari 3 ribu ton dan sebagian besar telah didistribusikan ke sejumlah daerah. PG kembali menargetkan produksi 15.000 ton pada bulan Oktober s.d Desember 2016. Sedangkan pada tahun 2017, PG menargetkan total produksi 100.000 ton.

Dirsar PG Meinu Sadariyo optimis dengan kehadiran NPK Phonska Plus. Pertama, karena besarnya potensi pasar pupuk NPK di Indonesia dengan rata – rata pertumbuhan kebutuhan mencapai 6,53% per tahun. Kedua, dalam dua tahun terakhir, alokasi pupuk NPK bersubsidi hanya sebesar 2,5 juta ton (Permentan 130/2014 dan Permentan 60/2015).

Sedangkan kebutuhan pupuk NPK untuk sektor pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat mencapai 9,1 juta ton per tahun. Adanya selisih atau gap inilah yang dimanfaatkan oleh PG dengan menyediakan pupuk NPK non – subsidi berkualitas dengan harga tetap terjangkau bagi petani.

Dirsar PG Meinu Sadariyo percaya bahwa sebuah langkah besar berawal dari langkah kecil. Mengacu pada sejarah kesuksesan NPK Phonska pada tahun 2005, dimana saat itu kuantum pejualan hanya 200 ribu ton per tahun, kini kuantum penjualannya telah mencapai lebih dari 2 juta toh per tahun.

“Berawal dari langkah kecil namun konsisten, kami optimis NPK Phonska Plus akan menjadi market leader untuk pasar pupuk NPK non – subsidi,” tutup Dirsar PG Meinu Sadariyo. (har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *